Biografi Ahmad Tohari Sastrawan Santri

Ahmad Tohari adalah sastrawan yang terkenal sebagai pengarang trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dinihari (1985), dan Jantera Bianglala (1986). Karya Novel Ronggeng Dukuh Paruk yang diterbitkan pada tahun 1982 berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusun kecil. Pada masa itu Novel ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Ahmd Thohari sempat berurusan dengan pihak berwajib. Atas bantuan Gus Dur akhirnya ial terbebas dari tekanan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Karya-karyanya banyak mendapat hadiah, seperti cerpennya yang berjudul “Jasa-Jasa buat Sanwirya” memenangi Hadiah Harapan Sayembara Cerpen Kincir Emas Radi Ao Nederland Wereldomroep (1977). Novel Di Kaki Bukit Cibalak memperoleh salah satu hadiah Sayembara Penulisan Roman yang diselengggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979. Kubah (novel) yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai bacaan terbaik dalam bidang fiksi tahun 1980. Novel Jantera Bianglala dinyatakan sebagai fiksi terbaik (1986). Hadiahnya berupa uang sebesar  Rp. 1.000.000,00 diserahkan oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan Fuad Hassan. Melalui novelnya yang berjudul Berkisar merah Ahmad Tohari meraih Hadiah Sastra ASEAN tahun1995. 

Dia lahir tanggal 13 Juni 1948 di Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Bangumas, Jawa Tengah dari keluarga santri. Ayahnya seorang kiyai (pegawai KUA) dan ibunya pedagang kain. Dari segi ekonomi, keluarganya tidaklah kekurangan. Namun lingkungan masyarakatnya mengalami kelaparan
Ahmad tohari menikah tahun 1970 dengan Siti Syamsiah. Istrinya bekerja sebagai guru SD. Dari perkawinannya itu, mereka dikarunai lima orang anak. Ahmad tohari sangat menyayangi keluarganya. Tahun 1981, Ketika bekerja dan tinggal di Jakarta, Tohari mengundurkan diri dari jabatan redaktur harian Merdeka.Hal itu terjadi karena dia ingin berkumpul dersama istri dan anak-anaknya di desa. 

Dalam mendidik anak-anaknya, Ahmad Thohari menanamkan pendidikan keagamaan sejak dini. Menurutnya, agama merupakan satu-satunya laku utama untuk mewujudkan kecintaan manusia kepada Tuhan dan kepada manusia lainnya. Ahmad Thohari selalu mengajak keluarganya unuk shlalat berjamaah dan dia sebagai imamnya.

Ia juga selalu menekankan kepada anaknya agar mereka tidak menjadi beban masyarakat dan harus dermawan. Jadilah orang yang memberi jangan menjadi orang yang menerima. 
Pendidikan formalnya ia tempuh di SMAN II Purwokerto, kemudian ia melanjutkan di Fakulta Ekonomi Unsoed Purwokerto selama tahun 1974 ampai 1975. Kemudaian ia pindah ke fakultas Sosial Politik yang dijalaninya selama setahun, kemudian pindah lagi ke Fakultas Kedokteran YARSI, Jakarta tahun 1967-1970, samapi ia memutuskan untuk berhenti dan memilih tinggal di desanya dan mengasuh Pondok Pesantren NU Al Falah. 

Dalam dunia jurnalistik, Ahmad Tohari pernah menjadi staf redaktur harian Merdeka, majalah Keluarga, dan majalah Amanah. Sastrawan yang memiliki darah kyai ini memiliki hoby memancing pada tahun 1990 mengikuti International Writing Programme di lowa City, Amerika Serikat dan memperoleh penghargaan The Fellow of The University of Iowa

Karya-karyanya mulai dipublikasikan tahun 1970-an. Sebenarnya saat masih di SMA ia sudah mulai menulis namun masih ia simpan di laci kamarnya. barulah selepas SMA ia mulai mengirimkan tulisan-tulisannya ke berbagai media masa. Media Kompas sering memuat crpen karangannya. Yang membuat semangat menulisnya menggebu-gebu tatkala cerpen yang berjudul “Jasa-Jasa buat Sanwirya”, menang dalam lomba cerpen yang diadakan oleh Radio Nederland, setelah itu karya-karyanya mulai menghiasi medi masa dan membuat ia semakin di kenal sebagai sastrawan. 

Menurutnya keberhasilan ia dalam tulis-menulis selain karena bakat,juga karena tekun belajar menulis dan rajin membaca. Keberhasilan yang ia usahaan membuat karya-karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Misalnya novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Kubah di terjemahkan ke dalam bahasa Jepang atas tanggungan Toyota Ford Foundation oleh Imura Cultural Co.Ltd. Tokyo, Jepang. Selain itu trilogi novelnya telah diterjemahkan pula ke dalam bahasa Belanda dan Jerman. 

Novel Ronggeng Dukuh Paruk juga telah di filimkan oleh Garuda Film dengan judul Darah Mahkota Ronggeng. Pameran utama filim tersebut adalah Enny Beatrice dan Ray Sahetapy yang di sutradai Yazman Yazid. Namun Thohari sendiri terhadap filim ini sangat tidak menyukai di karenakan skenario melenceng dari harapan. Berbeda dengan film yang  yang berjudul” Sang Penari” yang sama mengambil dari novel Ronggeng Dukuh Paruk yang di sutradarai oleh Irfa Irfansyah, Ahmad Thohari sangat mengapresiasi. 

Cerpen/Novel karangan Ahmad Thohari yang lainya antara lain :
a. “ Tanah Gantungan” dalam Amanah,28 Desember 92 –Januari 1993
b. “ Mata yang Enak di Pandang” dalam Kompas, 29 Desember 1991
c. “ Zaman Nalar Sungsang” dalam Suara Merdeka, 15 November 1993
d. “ Sekuntum Bunga Telah Gugur” dalam Suara Merdeka, 1 November 1993
e. “ Di Bawah Langit Dini Hari” dalam Suara Merdeka, 1 November 1993
f. “ Pencuri” dalam Pandji Masjarakat, 11 Februari 1985
g. “Orang-orang Seberang Kali” dalam Amanah, 15 Agustus 1986
h. “ Ah, Jakarta” dalam Panjdi Majarakat, 11 September 1984
i. “ Penipu yang Keempat” dalam Kompas, 27 Januari 1991
j. “ Warung Panajem” dalam Kompas, 13 November 1994
k. “ Kenthus” dalam Kompas, 1 Desember 1985
l. “ Rumah yang Terang” dalam Kompas, 11 Agus
m. “ Daruan” dalam Kompas, 19 Mei 1991
n. “Jembatan Ka” dalam Panji Masjarakat, 11 Juli 1985

0 Response to "Biografi Ahmad Tohari Sastrawan Santri"

Post a Comment